Pelacuran Pada Masa Revolusi 1945-1950

Pelacuran di Indonesia telah berlangsung lama. Tercatat pada tahun 1650 didirikan House of Correction for Women (panti perbaikan perempuan) dengan maksud untuk merehabilitasi para perempuan yang bekerja sebagai pemuas kebutuhan seks orang-orang Eropa.[1] Memasuki masa pemerintahan Hindia Belanda, tepatnya pada 1852, pemerintah mengeluarkan peraturan tentang komersialisasi industri seks, tetapi dengan serangkaian aturan untuk menghindari tindak kejahatan yang timbul akibat dari aktivitas prostitusi ini.[2] Berdasarkan peraturan tersebut, para penghibur diawasi secara langsung oleh polisi. Untuk memudahkan polisi dalam menangani tindak pelacuran, para pelacur dianjurkan melakukan “aktivitasnya” di rumah bordir. Pelacur juga diwajibkan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Apabila kedapatan berpenyakit kelamin, para pelacur harus segera menghentikan praktiknya, kemudian segera berobat ke suatu lembaga (inrigting voor zieke publieke vrowwen) yang didirikan khusus untuk menangani pelacur yang berpenyakit tersebut. Sejumlah peraturan di atas mengindikasikan bahwa tindak pelacuran marak terjadi, sehingga menjadi permasalahan serius bagi pemerintah. Lanjutkan membaca “Pelacuran Pada Masa Revolusi 1945-1950”

Para Tukang pada Masa Kolonial 1830-1880

Memasuki abad ke-19, sektor ekonomi non-pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian di Jawa. Ironisnya, sektor ini kurang diperhatikan dalam historiografi. Berbicara tentang sektor ini dalam masyarakat Hindia Belanda yang sangat agraris penuh dengan kesulitan. Sektor pertanian dan non-pertanian memiliki batas yang kabur, karena banyak petani melakukan pekerjaan sampingan yang tidak berkaitan dengan pertanian, dan banyak pula yang bergerak di sektor bukan pertanian masih berminat terhadap pertanian. Lanjutkan membaca “Para Tukang pada Masa Kolonial 1830-1880”

Dengan Kepala Dingin dan Hati yang Gembira

Selama ini historiografi Indonesia memberikan perhatian lebih terhadap organisasi pergerakan nasional yang bersikap radikal dan non-kooperatif dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sekaligus mengesampingkan organisasi pergerakan nasional yang memilih sikap kooperatif dengan rezim kolonial. Organisasi yang mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial ini disebut pula kaum moderat. Kata “moderat” sebagaimana dikutip dari Hans Van Miert, dipakai untuk organisasi yang dengan tegas menentang penggunaan kekerasan dan pelanggaran ketertiban umum dalam mencapai tujuan kemerdekaan atau kebebasan secara berangsur-angsur.[1] Salah satu organisasi pergerakan nasional yang menempuh jalan moderat ini adalah Budi Utomo. Lanjutkan membaca “Dengan Kepala Dingin dan Hati yang Gembira”

Sejarah dan Sejarawan (adalah) Milik Masyarakat

Rangkaian kejadian demi kejadian, entah satu detik yang lalu, satu menit, satu hari, satu bulan, satu tahun, bahkan satu abad yang lalu merupakan sejarah. Sejarah menceritakan berbagai peristiwa yang pernah dialami oleh manusia. Manusia yang bertugas untuk membawa masa lalu sekaligus menarasikannya dalam sebuah tulisan adalah sejarawan. Lanjutkan membaca “Sejarah dan Sejarawan (adalah) Milik Masyarakat”

Dekolonisasi Historiografis di Indonesia

Sebelum Indonesia merdeka, terdapat dua historiografi yang berkembang, yaitu historiografi tradisional dan historiografi kolonial. Dalam tulisan ini pembahasan akan dimulai dari historiografi kolonial. Historiografi kolonial menjadikan Belanda sebagai pelaku utama, yang mewakili pencerahan, kemajuan dan kemampuan untuk melindungi kepentingan penduduk pribumi, sedangkan penduduk pribumi digambarkan sebagai penduduk yang belum beradab, bodoh, dan gambaran buruk lainnya. Penduduk pribumi hanya mendapat tempat sebagai pelengkap historiografi tersebut. Lanjutkan membaca “Dekolonisasi Historiografis di Indonesia”

Rokok Putih sebagai Identitas dan Pembeda pada Awal Abad Ke-20

Pada akhir abad ke-18 merokok telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa, tidak ubahnya seperti kebiasaan makan sirih pada periode sebelumnya. Merokok bukan lagi sebagai kesenangan pribadi dan sebagai hidangan penting yang disajikan kepada para tamu, tak ubahnya dengan buah pinang dan sirih, melainkan telah menjadi sebuah gaya hidup baru. Merokok didentikkan dengan gaya hidup modern, sedang mengunyah daun sirih identik dengan gaya hidup tradisional. Selama abad kesembilan belas, mereka yang ingin mengikuti gaya “modern” memilih untuk membeli rokok impor, terutama rokok putih[1]. Lanjutkan membaca “Rokok Putih sebagai Identitas dan Pembeda pada Awal Abad Ke-20”

Nyai dan Pesantren pada Abad Ke-20

Nyai adalah sebutan yang lazim bagi istri kyai. Tulisan menarik yang melihat peran nyai dalam pesantren pada abad ke-20 salah satunya adalah tulisan dari dari Siti Zainab (selanjutnya disebut penulis) dalam bukunya “Nyai, Kyai, dan Pesantren”. Penulis menulis mengenai life history Nyai Shinto Nabilah (selanjutnya disebut Nyai Sintho), seorang nyai yang menjadi mudir (pimpinan) Pondok Pesantren Putri Al-Hidayat yang terletak di Magelang. Pesantren ini didirikan oleh Nyai Sintho pada tahun 1986. Lanjutkan membaca “Nyai dan Pesantren pada Abad Ke-20”