Dekolonisasi Historiografis di Indonesia

Sebelum Indonesia merdeka, terdapat dua historiografi yang berkembang, yaitu historiografi tradisional dan historiografi kolonial. Dalam tulisan ini pembahasan akan dimulai dari historiografi kolonial. Historiografi kolonial menjadikan Belanda sebagai pelaku utama, yang mewakili pencerahan, kemajuan dan kemampuan untuk melindungi kepentingan penduduk pribumi, sedangkan penduduk pribumi digambarkan sebagai penduduk yang belum beradab, bodoh, dan gambaran buruk lainnya. Penduduk pribumi hanya mendapat tempat sebagai pelengkap historiografi tersebut. Lanjutkan membaca “Dekolonisasi Historiografis di Indonesia”

Iklan

Menuju Perspektif Baru dalam Historiografi Indonesia

Bangsa yang baru merdeka membutuhkan sebuah sejarah nasional yang dapat membujuk warga negara agar memiliki kesadaran bahwa mereka merupakan bagian dari nasion yang baru dan berusaha meyakinkan mereka bahwa masa depan adalah milik mereka bersama. Untuk mewujudkan sebuah narasi persuasif semacam itu, lembaga-lembaga negara mencoba menyederhanakan kisah-kisah masa lalu yang didasarkan atas konsep dan kategori yang dapat digunakan negara untuk mendefinisikan dan mengendalikan masyarakat. Dalam menyusun sebuah narasi baru, negara berusaha untuk memusatkan pada satu narasi saja yang bersumber dari arsip-arsip negara dan mengesampingkan pluralitas narasi yang telah ada sebelumnya dalam masyarakat. Lanjutkan membaca “Menuju Perspektif Baru dalam Historiografi Indonesia”

Kegagalan Epistemolgi Modern Merekonstruksi Sejarah

Epistemologi modern mengklaim bahwa teori (ilmu pengetahuan) yang mereka temukan adalah gambaran yang objektif dan universal dari objek yang diteliti. Dalam perspektif ini, teori dianggap sebagai copy dari realitas. Epistemologi modern berpendapat bahwa ilmu pengetahuan didasarkan pada pengamatan empiris (empirisme). Konsekuensi logis dari epistemologi ini adalah bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat mempelajari hal-hal yang bersifat empiris dan yang dapat dibuktikan melalui percobaan. Lanjutkan membaca “Kegagalan Epistemolgi Modern Merekonstruksi Sejarah”