Kenapa Tidak Engkau Katakan Sedari Dulu? (6)

Flik berupaya kembali membuka ingatan yang ia rawat selama ini. Kotak pandora yang sedianya ia tutupi, kini dibiarkan terbuka kembali. Sederetan memori ihwal Odessa si Bunga Matahari, beterbangan menghirup segarnya udara bebas. Ia mengucap lirih pada dirinya sendiri. “Odessa, engkau tidak salah apabila memilih bersama pria yang telah mapan. Namun, mengapa engkau tidak katakan sejak awal? Kenapa engkau baru katakan sekarang, pasca dekatnya hubungan kita beserta lamanya waktu yang kita habiskan bersama? Aku yakin kamu sangat sadar tentang kriteria pria yang boleh singgah di hatimu. Tapi, sekali lagi kutanya padamu, kenapa sebelumnya engkau justru memilih pria yang belum mapan untuk membersamai dirimu? Odessa, mungkin mudah bagimu mengucap kata-kata itu, mudah bagimu mengalihkan pendulum dari sisi yang satu ke sisi yang lain. Tapi pernahkah terbesit dalam benakmu tentang perasaanku? Hancur Odessa! Sekiranya kamu katakan sejak awal, mungkin sekarang aku tidak akan jatuh tersungkur ke tanah. Kamu juga tidak akan divonis sebagai wanita pemberi harapan palsu. Kini, belum terlambat bagimu untuk belajar menghargai perasaan orang lain.”

Skandal Kepolisian

Pengakuan Novel Baswedan kepada majalah Time yang dipasang di harian online Republika pada tanggal 11 Juni 2017 membikin kehebohan publik (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/14/orjic1-pengakuan-novel-ke-time-polri-percuma-tak-ada-nilai-hukum). Bagaimana tidak, ia menyatakan bila ada dugaan keterlibatan perwira polisi dalam kasus penyiraman air keras yang menimpa dirinya. Lanjutkan membaca “Skandal Kepolisian”

Salahkah Bunga Matahari Mencintai Matahari? (5)

Sembari melangkahkan kaki menuju muka istana Zexen, Flik membeberkan memori yang termaktub dalam isi otaknya.

Kebutuhan bunga matahari terhadap matahari merupakan realitas yang tidak dapat terbantahkan lagi. Kendati tanpa relasi dan tidak saling menaut, tetapi anasir sinar matahari dibutuhkan selama proses fotosintesis. Sekarang, Flik menganalogikan bunga matahari dengan seorang wanita. Apabila wanita sedari awal menginginkan pasangan yang mapan dan berkawan erat dengan harta, alangkah mulianya jika ia tidak memberi janji dan harapan kepada orang yang di luar itu. Seperti halnya dengan bunga matahari yang berkarib dengan matahari. Sebegitu penting sinarnya bagi sekujur kehidupan bunga matahari menjadikannya tidak mungkin bersahabat dengan bulan.

Belajarlah menjaga perasaan orang lain.

Bunga Matahari “Si Pemberi Harapan Palsu” (4)

Di ambang fajar keesokan harinya, ingatan lelaki ber-bandana biru itu seakan meluncur jauh ke belakang, bagai busur panah yang ditarik mundur. Pandangannya tertumbuk pada sekumpulan bunga matahari yang kelopaknya tertutupi gelapnya langit dini hari. Masa lalunya yang terbentang jauh di belakang, serta kejadian di masa kini yang telah lama bercokol dalam setiap nafasnya, tak lekas membuat Flik lupa. Memori indah yang ia pahat bersama Odessa sudah kadung menubuh pada dirinya. Flik ingat betul bagaimana Odessa mengucapkan sejumlah janji dan harapan kepadanya, kendati ia sendiri acap bingung mencerna tindakan Odessa yang tega mengingkari itu semua. Bila sudah begitu, Flik sah-sah saja menyematkan julukan “si pemberi harapan palsu” kepada Odessa.

Bagai Bunga Matahari yang Senantiasa Ingkar Janji (3)

Odessa: “Maafkan aku Flik. Aku pikir sudah waktunya kita untuk berpisah.”

Flik: “Maksudnya?”

Odessa: “Kita tak mungkin bersama (lagi).”

Flik: “Kenapa begitu Odessa?”

Odessa: “Hatiku telah condong kepada seorang laki-laki yang mampu memberiku kejelasan dari segi materi, dimana kamu tidak bisa menjanjikannya.”

Flik. “Tunggu dulu Odessa. Apakah kamu telah lupa dengan janjimu dulu? Kamu meyakinkanku bahwa kita berdua akan berjuang bersama-sama, berjuang mulai dari nol. Kamu juga dengan tegas mengatakan bahwa akan hidup bersamaku dalam kondisi apapun, baik senang maupun susah.

Odessa: “Tolong Flik, berpikirlah realistis. Hidup ini terasa berat bila kita tidak memiliki pegangan apapun. Memang harta bukanlah segalanya. Namun, harta merupakan salah satu kepastian yang dibutuhkan oleh seorang wanita. Dan kamu gagal memberikannya.”

Flik: “Odessa, dengarkan aku baik-baik. Aku akan berjuang demi kamu. Aku akan berupaya membahagiakanmu meski dalam kondisi kantong sakuku yang sedikit. Tapi aku mohon kepadamu. Pada tahap awal pernikahan kita kelak, tolong jangan meminta di luar batas kemampuanku. Bukan aku tak mau, melainkan saat ini aku hanya mampu memberimu sebatas tingkat keuanganku. Janjiku padamu Odessa, di suatu hari nanti, semua yang kamu minta akan aku penuhi.”

Odessa: “Sekali lagi keputusanku telah bulat, Flik. Bukankah lumrah bila seseorang melemparkan sejumlah janji kepada pasangannya? Tolong anggap itu sebagai sebuah kewajaran. Tidak semua janji harus ditepati Flik, kamu harus sadar akan hal itu. Realitas bukan diukur berdasarkan sejumlah janji, melainkan sebuah materi.”

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba turun hujan di taman bunga matahari di Kuskus, sebuah kota di tepian sungai Dunan, di jantung Republik Dunan. Langit malam itu seakan tahu apa yang tengah terjadi. Meski tidak berdarah, tetapi satu hal yang pasti, hati Flik terasa nyeri ketika janji itu hanya menguap tak bersisa lagi.  Kini, bunga matahari telah mengingkari janji yang ia buat sendiri.

Bunga Matahari yang Melukai (2)

Masih di waktu yang sama di Ibukota Konfederasi Zexen. “Flik, aku sengaja datang untuk memberimu hadiah ini, sebuah bunga matahari yang cantik nan indah” ujar Nina bersemangat. Dengan pandangan datar, Flik menimpali, “Maafkan aku Nina, aku tak mencintai (lagi) bunga jenis itu. Biarpun bunga matahari tak berduri, tetapi ia mampu untuk melukai. Kini, aku lebih menyukai bunga mawar. Kendati berduri, luka yang ditimbulkannya tak sedahsyat bunga matahari.” “Kenapa begitu Flik?” tanya Nina penasaran. Sang waktu agaknya mengajak keduanya kembali ke masa lalu layaknya busur panah yang dibentangkan ke arah sebaliknya.

Kau Bawa Hatiku Pergi (1)

Odessa wasn’t just my lover. To me, she was the only person I ever really looked up to. She taught me a whole new way of thinking, a whole new way of looking at life. She’s the reason I became the man I am today. So it’s not that I can’t forget her. I don’t want to forget her.

Sore yang cerah itu, tampak Flik “si kilat biru” –begitulah orang-orang menyebutnya– duduk termenung lesu di pinggiran dermaga Vinay del Zexay. Kota pelabuhan yang diapit oleh sejumlah bangunan bercita rasa abad pertengahan mengantarkan Flik mengingat sepucuk kisah yang tertanam di gudang penyimpanan memorinya. Ya, sebuah ingatan indah sekaligus terselip di dalamnya rasa kekecewaan yang amat dalam. Hati yang menelurkan berbagai kenangan dalam perjalanan sejarah hidupnya kini telah dibawa pergi. Biarkanlah semilir angin senja di Ibukota negara Zexen itu mengantarkannya menyelusuri ruas jalan masa lalunya.