Skandal Kepolisian

Pengakuan Novel Baswedan kepada majalah Time yang dipasang di harian online Republika pada tanggal 11 Juni 2017 membikin kehebohan publik (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/14/orjic1-pengakuan-novel-ke-time-polri-percuma-tak-ada-nilai-hukum). Bagaimana tidak, ia menyatakan bila ada dugaan keterlibatan perwira polisi dalam kasus penyiraman air keras yang menimpa dirinya.

Sikap blak-blakan Kasatgas penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menangani kasus e-KTP itu rupanya mencuri perhatian Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto. Menurutnya, pengakuan Novel itu tidak bernilai hukum bila tidak disampaikan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) (http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/14/orjic1-pengakuan-novel-ke-time-polri-percuma-tak-ada-nilai-hukum). Bila pernyataan Novel di atas benar, riwayat skandal kriminal yang coba disembunyikan oleh Polri kian bertambah. Hal itu juga mengajak kita melintasi waktu dan menarik kembali busur kehidupan yang pernah terbentang jauh di belakang. Terus terang, kendati masyarakat berulang kali memergoki perilaku kriminal oknum polisi, tapi belum mengendus riwayat historisnya.

Jangan berharap pada institusi Polri untuk mengantongi untaian cerita seputar skandal kepolisian ini, lantaran hal itu hanya akan merusak citra kepolisian sendiri. Dalam bukunya yang berjudul Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan, Marieke Bloembergen secara trengginas menenun ingatan sejarah kepolisian sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan, secara eksplisit ia memotret skandal kriminal yang dilakukan oleh kepolisian kala itu. Bloembergen menceritakan bahwa pada 8 September 1923, Komisaris Besar Polisi Batavia yang merangkap sebagai komandan wilayah polisi lapangan di Batavia dan Bantam, Van Rossen, ditahan lantaran melakukan tindakan penggelapan uang. Dari hasil korupsinya yang mencapai kurang lebih satu juta gulden itu, Van Rossen memperkaya dirinya dengan membeli sebuah mobil Hudson merah, rumah dengan interior mewah, dan sebuah vila di Belanda (Bloembergen, 2011: 283).

Ketakutan kepolisian akan terbongkarnya skandal salah satu perwiranya atas dugaan keterlibatan dalam kasus mega korupsi e-KTP, membikin mereka gelap mata dengan melakukan tindak kriminal terhadap salah satu penyidik KPK. Perilaku kriminal kepolisian yang kini tengah hangat dibicarakan ini nyatanya telah terjadi di masa sebelum Indonesia merdeka. Benarlah kata pepatah bahwa tidak ada sesuatupun yang baru di bawah matahari. Semua telah memiliki akar sejarahnya di masa silam. Lantas, dengan banyaknya skandal yang dilakukan oleh kepolisian, apakah institusi itu telah di ambang senja? Entahlah.

 

Referensi:

Bloembergen, Marieke. 2011. Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas dan KITLV.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/14/orjic1-pengakuan-novel-ke-time-polri-percuma-tak-ada-nilai-hukum. Diakses 31 Juli 2017.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s