Para Tukang pada Masa Kolonial 1830-1880

Memasuki abad ke-19, sektor ekonomi non-pertanian memiliki peran penting dalam perekonomian di Jawa. Ironisnya, sektor ini kurang diperhatikan dalam historiografi. Berbicara tentang sektor ini dalam masyarakat Hindia Belanda yang sangat agraris penuh dengan kesulitan. Sektor pertanian dan non-pertanian memiliki batas yang kabur, karena banyak petani melakukan pekerjaan sampingan yang tidak berkaitan dengan pertanian, dan banyak pula yang bergerak di sektor bukan pertanian masih berminat terhadap pertanian.

Fernando menyajikan statistik tentang ukuran sektor non-pertanian selama abad ke-19. Pada 1850-an, mereka yang aktif dalam sektor nonpertanian hanya sebesar 23%, sedang sisanya masih bergerak di bidang pertanian (Fernando, 2000: 135). Para tukang merupakan salah satu elemen sektor nonpertanian yang berkembang pada periode 1830-1880. Para tukang biasanya merupakan kelompk ahli yang memiliki rumah usahanya sendiri, dan bekerja dengan rekan sekerja.

Di antara para tukang ini, mereka yang ahli dalam pembuatan logam menduduki posisi istimewa, pandai besi salah satunya. Pandai besi membuat alat-alat tajam, utamanya membuat keris untuk keluarga priyayi sebagai pusaka. Di Banten, mereka tergabung dalam serikat pekerja. Perhitungan Boomgaard menunjukkan bahwa seorang pandai besi mampu menghasilkan f 480 per tahun pada 1830 di Priangan. Pada tahun 1836 di Bogor, pandai besi mampu menghasilkan f 440 per tahun. Bila  dibandingkan penghasilan ini dengan penghasilan petani –pada tahun 1840 penghasilan petani sebanyak f 75-, dapat disimpulkan bahwa para pandai besi berpendapatan 6 kali lipat daripada petani (Boomgaard, 2004: 219-220).

Kelompok tukang pembuat logam lain yang juga memperoleh pendapatan yang lumayan ialah tukang tembaga, tukang perak, dan tukang emas. Boomgaard  menjelaskan bahwa pada tahun 1835, di Bogor, ketiganya mampu memperoleh penghasilan bersih masing-masing sebesar f  230 dan f 235, atau sedikit di bawah penghasilan pandai besi, tetapi masih lebih tinggi daripada pendapatan petani penggarap dan keluarganya (Boomgaard, 2004: 220). Lebih lanjut menurut perhitungan Fernando bahwa di Rembang saja, terdapat sekitar 700 tukang emas yang beroperasi pada 1840 (Fernando, 2000: 142).

Pada tahun 1830, tukang kayu peringkatnya melesat karena banyak kereta harus dibuat dan berfungsi untuk memudahkan transportasi barang dari desa ke kota-kota pantai dan pelabuhan-pelabuhan. Di samping itu, pabrik-pabrik nila dan gula juga membutuhkan jasa tukang kayu. Sejak tahun 1850-an, banyak pula tukang kayu yang bekerja membuat galangan kapal dan perabotan di Jepara dan Rembang. Fernando mengungkapkan bahwa pada 1840 terdapat 700 tukang kayu yang bekerja dalam pembuatan galangan kapal di Rembang. Jumlah tukang kayu di daerah pedesaan juga meningkat dan sebagian besar dari mereka terlibat dalam pembuatan perabotan. Pada akhir 1850-an terdapat kira-kira 920 tukang kayu, tukang roda, dan pembuat kapal di Surabaya (Fernando, 2000: 140-141).

Tukang kayu juga dipekerjakan untuk membangun pabrik, rumah orang Eropa dan Cina, serta gedung-gedung pemerintah. Tukang kayu mendapatkan hasil penghasilan cukup baik. Pada tahun 1832, di Tegal, tukang kayu memperoleh pendapatan sebesar f 300 (Boomgaard, 2004: 221). Cukup baiknya perolehan pundi-pundi uang oleh tukang kayu disebabkan tidak banyaknya tukang yang tersedia, sehingga orang dengan kemampuan minimal sering direkrut untuk bekerja dan sebagian besar dari mereka tampaknya tetap bertahan pada pekerjaan baru tersebut. Hal ini membuktikan bahwa sumber pendapatan rutin memotivasi lebih banyak orang untuk menjadi tukang kayu.

DAFTAR PUSTAKA

Boomgaard, P. (2004). Anak Jajahan Belanda: Sejarah Sosial Ekonomi Jawa 1795-1880. Jakarta: Djambatan.

Lindblad, J.T. (2000). Sejarah Ekonomi Modern Indonesia: Berbagai Tantangan Baru. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s