Dengan Kepala Dingin dan Hati yang Gembira

Selama ini historiografi Indonesia memberikan perhatian lebih terhadap organisasi pergerakan nasional yang bersikap radikal dan non-kooperatif dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sekaligus mengesampingkan organisasi pergerakan nasional yang memilih sikap kooperatif dengan rezim kolonial. Organisasi yang mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial ini disebut pula kaum moderat. Kata “moderat” sebagaimana dikutip dari Hans Van Miert, dipakai untuk organisasi yang dengan tegas menentang penggunaan kekerasan dan pelanggaran ketertiban umum dalam mencapai tujuan kemerdekaan atau kebebasan secara berangsur-angsur.[1] Salah satu organisasi pergerakan nasional yang menempuh jalan moderat ini adalah Budi Utomo.

Budi Utomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 oleh Sutomo, seorang pelajar STOVIA. Melalui kongresnya yang pertama pada 3-5 Oktober 1908 di Yogyakarta, Budi Utomo mempertegas tujuan pendiriannya untuk memajukan pendidikan orang Jawa dengan berkiblat ke Barat serta membangkitkan kembali kultur Jawa.[2] Pendidikan dalam kaca mata Budi Utomo adalah pendidikan untuk kaum priyayi, bukan memajukan pendidikan bagi rakyat jelata.[3]

Budi Utomo adalah gerakan priyayi baru yang mendapat kedudukan berkat pendidikan Barat. Sebagai priyayi baru, mereka moderat, dan biasanya loyal pada sang pemberi nafkah, yaitu pemerintah kolonial. Pemerintah menganggap organisasi ini mampu untuk memajukan rakyat Hindia Belanda. Sikap moderat dan kedekatannya dengan pemetintah kolonial, menyebabkan Budi Utomo dijauhi oleh kelompok pergerakan nasional lain yang lebih radikal dan yang memilih jalan non-kooperatif.

Sejak tahun 1908 hingga tahun 1917, Budi Utomo hanya bergerak di bidang sosial dan budaya terutama pada bagian pengajaran. Namun, setelah tahun 1925 Budi Utomo ikut terjun ke dunia politik. Perubahan haluan ini terjadi karena adanya pengaruh dari organisasi pergerakan lain yang bercorak politik, seperti Indische Partij dan Sarekat Islam. Kegiatan Budi Utomo dalam bidang politik salah satunya adalah ikut berpartisipasi secara aktif sebagai anggota Volksraad. Dibukanya Volksraad tahun 1918 disambut dengan gembira oleh Budi Utomo. Mereka membentuk diri menjadi partai politik dan mampu memperoleh lima kursi dalam Volksraad yang pertama.[4] Para pemimpinnya menempuh jalan tengah antara pemerintah dan kaum nasionalis radikal. Untuk itu mereka selalu merumuskan pikiran-pikiran nasionalis yang moderat.

Sikap pertengahan yang dilakukan Budi Utomo menyebabkan blunder bagi organisasi itu. Organisasi itu dituduh tidak setia oleh kedua belah pihak. Kelompok pergerakan nasional menuduhnya terlalu bersikap lemah dan taat terhadap pemerintah, sedang pemerintah kolonial menuduh mereka cenderung radikal. Sikap pertengahan Budi Utomo semakin menyebabkannya kehilangan wibawa di zaman yang begitu kuat pengaruh organisasi pergerakan nasional yang radikal serta yang menolak bekerja sama dengan pemerintah kolonial, sehingga menyebabkan organisasi ini runtuh pada tahun 1935.

[1] Hans Van Miert, Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930 (Jakarta: Hasta Mitra, 1995), hlm. xix.

[2] Suhartono, Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 30.

[3] Akira Nagazumi, Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989), hlm. 74.

[4] Hans Van Miert, Dengan Semangat Berkobar dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930, hlm. 527

 

DAFTAR PUSTAKA

Nagazumi, A. (1989). Bangkitnya Nasionalisme Indonesia: Budi Utomo 1908-1918. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Suhartono. (2001). Sejarah Pergerakan Nasional: Dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Van Miert, H. (1995). Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda di Indonesia, 1918-1930. Jakarta: Hasta Mitra.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s