Rokok Putih sebagai Identitas dan Pembeda pada Awal Abad Ke-20

Pada akhir abad ke-18 merokok telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa, tidak ubahnya seperti kebiasaan makan sirih pada periode sebelumnya. Merokok bukan lagi sebagai kesenangan pribadi dan sebagai hidangan penting yang disajikan kepada para tamu, tak ubahnya dengan buah pinang dan sirih, melainkan telah menjadi sebuah gaya hidup baru. Merokok didentikkan dengan gaya hidup modern, sedang mengunyah daun sirih identik dengan gaya hidup tradisional. Selama abad kesembilan belas, mereka yang ingin mengikuti gaya “modern” memilih untuk membeli rokok impor, terutama rokok putih[1].

Semenjak awal abad ke-20 jumlah rokok putih yang diimpor dari mancanegara semakin lama semakin meningkat. Pada tahun 1923 jumlah impor rokok putih telah menacapai kurang lebih 1 juta barang. Jumlah peredaran rokok putih ini semakin meningkat dengan didirikannya pabrik lokal berskala internasional yang memproduksi rokok putih oleh British American Tobacco (BAT), dengan mendirikan pabrik di Cirebon pada tahun 1924 dan di Semarang pada tahun 1928.

Pada awalnya rokok putih hanya dikonsumsi oleh para laki-laki Eropa yang memiliki kasta tertinggi. Perkembangan selanjutnya kebiasaan ini menurun kepada sekelompok elit terdidik bumiputra pada awal abad ke-20. Terdapat beberapa elit bumiputra yang memiliki kecenderungan berorientasi pada modernitas dalam konteks gaya hidup. Mereka memiliki gaya hidup yang condong kebarat-baratan –semua serba Eropa–. Mereka ingin menunjukkan sebagai bagian dari warga negara dari negara koloni melalui gaya hidup, terutama konsumsi. Hal ini menunjukkan bahwa apa yang dikonsumi oleh sekelompok elit bumiputra dapat menjadi penanda posisi sosial dan identitas budaya mereka.

Keberhasilan rokok putih bersaing di pasar Hindia Belanda yang sudah sejak lama akrab dengan kretek tentu bukan semata-mata persoalan selera, tetapi juga sebagai identitas dan pembeda. Untuk menjadi bagian dari masyarakat baru ini seseorang harus memiliki orientasi modern yang dapat diartikulasikan melalui penampilan luar, yakni dengan cara bergaya, termasuk di dalamnya konsumsi. Seperti halnya lampu Phillips, parfum, dan pantalon, rokok putih adalah simbol-simbol modernitas pada awal abad ke-20. Rokok putih tak ubahnya keju yang menggeser singkong, telah menjadi gaya hidup masyarakat baru yang modern dari negara koloni.

[1] Rokok putih dalam pembuatannya tidak menggunakan cengkeh sebagai campuran tembakau. Rokok jenis ini diproduksi pabrikan asing.

Daftar Pustaka

Budiman, A., Onghokham. (1987). Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara. Kudus: Djarum.

Margana, S., dkk. (2014). Kretek Indonesia dari Nasionalisme hingga Warisan Budaya. Yogyakarta: Puskindo.

Reid, A. (1985). From Betel-Chewing to Tobacco-Smoking in Indonesia. The Journal of Asian Studies, Vol. 44, No. 3 (May, 1985), pp. 529-547. http://www.jstor.org/stable/2056266. (Diakses 15 September 2016 pukul 15:52 WIB).

Rokok Indonesia. “Beda Jenis Rokok, Beda Bahan Baku”. rokokindonesia.com. http://rokokindonesia.com/beda-jenis-rokok-beda-bahan-baku/. (Diakses 4 Oktober 2016 pukul 5:56 WIB).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s